Selasa, 27 Desember 2011

Strategi dan Taktik

Strategi dan Taktik
Tujuan dan Target
  1. Memperkenalkan peserta tentang strstegi dan taktik yang ada dalam PMII
  2. Peserta mengetahui kerja-kerja strategis dan taktis dalam konteks student movement (maping, martikulasi dan rekayasa social)
  3. Memperkenalkan kepada peserta tentang langkah-langkah dasar problem solving, managemen isu, aksi, dan advokasi
Pokok Bahasan
  1. Membedakan wilayah strategis (nilai keberpihakan) dan wilayah kerja taktik (metode dan taknik) dalam pergerakan
  2. Strategi dan taktik gerakan yang ada dalam PMII selama ini dan cita-cita pergerakan
  3. Manageman isu teknik, problem solving, managemen aksi dan advokasi dasar.
  1. Pengertian Strategi dan teknik
Phlip Kotler dalam bukunya, Managemen Pemasaran mendefenisikan strategi dengan melakukan sesuatu yang benar, sedangkan taktik adalah melakukan sesuatu dengan benar. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wilayah strategi lebih pada “APA” yang harus dikerjakan atau direncanakan, sedangakan taktik pada wilayah “BAGAIMANA” sesuatu itu harus dikerjakan. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa adalah proses perencanaan untuk menetapkan dimulainya sebuah gerakan sampai terwujudnya cita-cita gerakan. Sementara taktik adalah suatau rancangan gerakan yang bersifat spesifik sebagi bagaian dari keseluruhan strategi gerakan yang dijalankan.
Dengan ini maka jelaslahlah apa yang dicita-citakan PMII mempuyai gerak dan laju yang  sesuai alur, melalui tahapan-tahapan yang sesuai guna mencapai cita-cita PMII melalui Strategi gerakan dan taktik gerakan yang dimana keduanya merupakan manifesto dari gerakan PMII.
Dengan adanya strategi dan taktik yang dimiliki, maka PMII mencoba untuk memeperbaiki situasi masyarakat yang ada. Situasi masyarakat yang ada pada saat ini adalah :
·         Kemiskinan
·         Sitem pendidikan yang tidak merakyat
·         Pengaruh kebijakan pemerintah
·         Depolitisi massa
·         Lemahnya posisi Negara
·         Menguatnya pengaruh pasar bebas (investor asing)
·         Neoliberalisme (liberalisasi, prifatisasi, dan deregulasi)
  1. Rumusan Strategi gerakan berdasarkan pemagian lokus masyarakat
No
Lokus Masyarakat
Stratak Gerakan
1
Civil Society
Masyarakat sipil, LSM, Germa, dan Kelompok masyarakat lain
Ø  Menciptakan kesadaran lokalitas
-. Advokasi, pendampingan dan pengorganisasian masyarakat
-. Menegmbangkan SDM masyarakat sipil
-. Advokasi kebijakan
Ø  Menciptakan kemandirian ekonomi
-. Membnagun ruang-ruang ekonoi kerakyatan (koperasi, indutri ekonomi perumahan, PNP Mandiri –Pengembangan Perekonomian Masyarakat Mandiri-)
-. Pengorganisiran ruang-ruang ekonomi rakyat (BERDIKARI)
Ø  Mewujudkan pendidikan untuk rakyat (kurikulum berbasis kerakyatan, sekolah gratis, KHP (kritis, HUMANIS, dn Profesional)
-. Menciptakan sekolah-sekolah alternative
-. Pressure kebijakan pendidikan
2
Political Societi
Masyarakat, politik-negara, partai politik
Negara
Ø  Penguatan posisi Negara terhadap pasar dan Negara kapitalis
-. Advokasi kebijakan
Ø  Penegakan supermasi hukum
-. Advokasi kebijakan
Partai Politik
Ø  Membangun ruang bargaining rakyat dengan partai politik
-. Kontrak social/politik
3
Ekonomic Societi
Masyarakat ekonom, penguaha pribumi, investor, spekulan, MNC/TNCJ
Ø  Menciptakan keseimbangan pasar-negaracivil society
-. Kontrak social/politik
Ø  Membangun kantung-kantung control rakyat terhadapa pasar dan kebijakan ekonomi
-. Menciptakan kelompok-kelompok studi ekonomi dan kebijakn pasar
-. Menciptakan serikat-serikat buruh
-. Membanguan ruang-ruang control rakyat

Mrumuskan taktik gerakan berdasarkan strategi gerakan yang sudah disusun dengan mempertimbangkan tiga keranka kgerakan

War of Position
War of Opinion
War of Movement
NDP
·   Huungan manusia dengan Tuhan
·   Hubungan manusia dengan manusia
·   Hubungan manusia dengan alam
Kontek gagasan
·      Tentang masyarakat
·      Tentang Negara
·      Tentang padar
Kaderisasi
·   Formal (PKD, PKM, PKL)
·   Informal (pelatihan)
·   Non Formal (kantung-kantung kadr FAHMI, BIG BANG, SANGGAR Jepit, MMJ, dll)
ASWAJA
·   Tawasuth (moderat-pola piker) : Agama : Teologi. Sunnah Fiqh, Tasawuf. Filsafat : rasionalitas
·   Tasamuh : (toleran-pola sikap) (perbedaan-pluralisme). Agama : internal agama, antar agama. Budaya : Ras, Adat, Suku, Bahasa
·   Tawazun B(kesimbanagn pola-hubungan)
1.      Sosial : eligatarrianisme
2.      Politik :rakyat, Negara
3.      Ekologi : alam-manusia
4.      Ekonomi : Negar-Pasar-Masyarakat
·   Ta’adul (keadilan-pola integral) Nilai Universal
Managemen isu
1.   Basis Intelektual Kader (Injeksi dan doktrin kesadaran)
2.   Basis Media (penyediaan media transformasi gagasan) Basisi Massa (Investasi Kesadaran)
Gerakan Horisontal
(pengorganisiran)
·   Level Kampus
·   Level Organ Gerakan
·   Level Massa Rakyat

Gerakan vertical
(desakan terhadap otoritas)
·   Kuasa Kebijakan Politik
·   Kuasa Sosial Ekonomi
·   Kuasa Agama
·   Kuasa Adat
·   Dll
-          PKT






GENDER (Part III : Madzhab Feminisme)

Lanjutan
Madzhab Feminisme

  1. Feminis Liberal
Teori feminis liberal meyakini bahwa masyarakat telah melanggar nilai tentang hak-hak kesetaraan terhadap wanita, terutama dengan cara mendefenisikan wanita sebagai sebuah kelompok ketimbang sebagai individu-individu. Madzhab ini mengusulkan agar wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki.para pendukung feminism liberal sangat banyak, antara lain : John Stuart Mill, Hariet Taylor, Josephine St. Pierre Ruffin, Anna Julia Copper. Ida B, Wells, Franse E. W. Harper, Mary Crurch Terrel dan Fannie Barrier Williams (saulnier, 2000) gerakan utama feminism liberal tidak mengusulka perubahan struktur secara fundamental, melainkan memasukan wanita kedalam struktur yang ada berdasarkan prinsip kesetaraan dengan laki-laki.

Inti ajaran Feminis Liberal :
a.       Mengfokuska perlakuan yang sama terhadap wanita diluar, dari pada didalam keluarga
b.      Memperluaasa kesempatan dala pendidikan dianggapa sebagai cara paling efektif melakuka perubahan social.

Pekerjaan-pekerjaan “wanita” semisal perawatan anak dan pekerjaan rumah tangga dipandang sebagai pekerjaan yang tidaka terampil yang layak mengandalkan tubuh, bukan pikiran rasional.
Perjuangan harus menyentuh kesetaraan politik antara wanita dan laki-laki melalui penuatan perwakilan wanita diruang-ruang public.para feminis liberakl aktif mmonitor pemilihan umum dan mendukung laki-laki yang memperjuangkan keentigan wanita. Berbeda dengan para pendahulunya, feminis liberl saat ini cenderung lebih sejalan dengan model liberalism kesejahteraan atau egalitarian yang mendukung system kesjahteraan Negara (walfare state) dan meritokrasi.

  1. Feminis Radikal
Feminis radikal lahir dari katifis dan analisa politik mengenai hak-hak sipil dan gerakan-gerakan perubahan pada tahun 1950-an dan 1960-an, serta gerakan-gerakan wanita yang semarak pada tahun 1960-an dan 1970-an. Namun demikian, madzhab ibni bias dilacak pada par pendukungnya yang lebih awal. Lewat karyanya, Vindikation of the Rights of Women, Mary Wollstonecraft pada tun 1797 menganjurkan kemandirian wnaita dalam bidang ekonomi. Maria Stewart, salah satu feminis kulit hitam pertama, pada tahun 1830-an mengusulkan penguatan relasi diantara wanita kulit hitam. Elizabeth Cuddy Stanton pada tahun1880-an menentang hak-hak seksual laki-laki terhadap wanita da menyerang justifikasi keagamaan yang menindas wanita.
Feminis radikal juga dikembangkan dari gerakan-gerakan Kiri Baru (New Left) yang menyatakan bahwa perasaan-perasaan keterasingan dan ketidak berdayaan pada dsarnya diciptakan secara politik dan karenanya transformasi personal melalui aksi-aksi radikal merupakan cara dan tujuan yang paling baik. Madzhab ini secra fundamental menolak agenda feminism liberal mengenai kesamaan hak wanita : dan menolak strategi kaum liberal yang bersifat tambal sulam, incremental, dan tidak menyeluruh. bersebrangan dengan femiisme liberal yang menekankan kesamaan antara wanita dan laki-laki, feinis radikal menekankan pada perbedaan wanita dan laki-laki. Misalnya, wanita dan laki-laki mengkosepsualisasikan kekuasaan secara berbeda. Bila laki-laki berusaha untuk mendominasi dan mengontrol orang lain : wanita lebih tertarik untuk berbagi dan merawat kekuasaan.
Inti ajaran Feminis Radikal :
“the Personal is Political” adalah slogan yang erap digunakan oleh feminis radikal. Maknanya : bahwa pengalaman-pengalaman individual wanita mengenai ketidak adilan dan kesengsaraan yang oleh ara wanita dianggap sebagai masalah-masalah personal, pada haikatnya adlah isu-isu politik yang berakar pada ketidakseimbangan kekuasaan antara wanita dan laki-laki. Memprotes eksploitasi wanita dan pelaksanaan peran sebagai istri, ibu, dan pasangan seks laki-laki, serta menganggap perkawinan sebagi bentuk formalisasi pendikrimasian terhadap wanita.
Menggambarkan sexism sebagai system social yang terdiri dari hokum, tradisi, ekonomi, pendidikan, lembaga keagamaan, ilmu pengetahuan, bahasa, media masa, moralitas seksual, perawatan anak, pembagian kerja, dan interaksi social sehari-hari. Agenda tersembunyi dari system social itu adalah memberi kekuasaan laki-laki melebihi wanita. Masyarakat harus diubah secara menyeluruh. Lembaga-lembaga social yang paling fundamental harus diubah secara fundamental pula. Para femiis radikal menolak perkawinan bukan hanya dalam teori, melainkan sering pula dalam praktek.
Menolak system hirakis yang berstrata berdasarkan garis gender dan kelas, sebagai man diterima oleh feminis liberal.

  1. Feminis Sosialis
Feminis social mulai dikenal sejak tahun 1970-an. Menurut Jaggar, madzhab ini merupakan sintesa dari pendekatan historis-materialis Marxisme dan Engels dengan wawasan “the personal is political” dari kaum feminis radikal, meskipun banyak pendukungmadzhab ini kurang puas dengan analisis Marx dan Engels yang tidak menyapa pnindasan dan perbudakan terhadap wanita.
Marx mennyatakan : kondisi material atau ekonomi merupakan akar kebudayaan dan organisasi social. Cara-cara hidup manusia merupakan hasil dari apa yang mereka produksi dan bagaimana mereka memproduksinya. Maka, semua sejarah poiti dan intelektual dapat difahami dengan mengetahui “Mode of Economic Production” yang dilakukan oleh bangsa manusia. Kesadaran dan diri berubah mengikuti perubahan lingkungan material. Marx beragumen “its not consciousness that determines life, but life that determines consciousness”. Menurut Engels, wanita dan laki-laki memiliki peranan-peranan penting dalam memelihara keluarga inti. Namun karena tugas-tugas tradisional wanita mencakup pemeliharan rumah dan penyiapan makanan : sedangkan tgas laki-laki mencari makanan, memiliki dan memerintah budak, serta memiliki alat-alat yang mendukung pelaksanaan tugas-tgas tersebut : laki-laki memiliki akumulasi kekayaan yang lebih besar ketimbang wanita. Akumulasi kekayaan ini menyebabkan posisi laki=laki didalam keluarga menjadi lebih penting dari pada wanita dan pada giliranya mendorong laki-laki untuk mengekploitasi posisinya dengan menguasai wanita dan menjamin warisan bagi anak-anaknya.


Inti ajaran Feminis Sosialis :
Wanita tidak dimasukkan adalam analisis kelas, karena pandangan bahwa wanita tidak memiliki hubungan husus dengan alat-alat produksi. Karenanya, perubahan alat-alat produksi merupakan “necessary codition” meskipun bukan “sufficient condition”, dalam mengubah factor-faktor yang mempengaruhi penindasan terhadap wanita. Menganjurkan solusi untuk membeyar wanuta atas pekerjaanya yang dia lakukan dirumah. Status sebagai ibu rumah tangga dan pekerjaanya sangat penting bagi berfungsinya system kapitalis. Logikanya : capitalis depends on the housewife’s free labir to maintain its workers : if the housewife refused to continue to work without pay, capilaisme could not function”
Kapitalisme memperkuat sexism, karena memisahkan antar pekerjaan bergaji dengan  pekerjaan rumah tangga (domestic work) dan mendesak agar wanita melakukan pekerjaan domestic. Akses laki-laki terhadap waktu luang, peayanan-palayanan personal, dan kemewahan=kemewahan talah mengangkat standar hidupnya melebihi wanita : karenanya, adalah laki-laki sebagai anggota system patriakal, bukan hanya cara-cara ekonomi kapitalis, yang diuntungkan tenaga kerja wanita.

GENDER (Part II : FEMINISME)

Lanjutan

GENDER DAN FEMINISME
  1. GENDER
Gender adalah ide dan harapan dalam arti yang luas bisa ditukarkan antara laki-laki dan perempuan. Ide tentang karakter feminism dan maskulin, kemampuan dan harapan tentang bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperilaku dalam berbagai situasi ide-ide ini disosialisasikan lewat perantara keluarga, teman, agama, media. Lewat perantara-perantara ini, gender direfleksikan kedalam peran-peran, status sosial, kekuasaan politik, dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan. (Bruynde, Jackson, Wijwermans, Knought & Berkven. 1997 :7)
Gender juga dapat diartikan sebagai suatu sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. Karena hal tersebut bersifat bentukan sosial, maka gender tidak berlaku untuk selamanya, dapat berubah-ubah dan berbeda-beda antara satu tenmpat dengan lainya. (Mansour Faqih. 2004 :5)

  1. Perbedaan Seks dan Gender
Seks
Gender
jenis kelamin, perbedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan anatomi biologi.
Jenis kelamin social, perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi social dan budaya


Gender
Seks
Dibentuk oleh social
Biologis, dibawa sejak lahit (natur/alami)
Dapat diubah
Tidak dapat diubah
Aberbeda di setiap budaya
Bersifat Universal
Berbeda dari waktu ke waktu
Sama dari waktu ke waktu

  1. Perbedaan Kodrati
Kodrat adalah keistimewaan yang diberikan sejak lahir kepada laki-laki dan perempuan dan tidak dapt dipertukarkan satu sama lain

Laki-laki
Perempuan
Mempunyai penis
Mempunyai vagina

Memiliki rahim sehingga dapat hamil dan melahirkan
Menghasilkan sperma
Menghasilkan sel telur
Memiliki jakun
Meiliki payudara
Mengalami “mimpi basah”
Mendapat menstruasi

  1. Perbedaan berdasarkan Gender
Perbedaan dalam hal pekerjaan. Misalnya, laki-laki dianggap pekerja produktif dan perempuan pekerja reproduktif. Kerja produktif  adalah jenis pekerjaan yang menghasilkan uang (dibayar). Kerja reproduktif  adalah kerja yang menjamin pengelolaan dan melahirkan anak). Kerja reproduktif ini biasanya tidak menghasilkan uang. Pembedaan wilayah kerja, laki-laki diwilayah publik (diluar rumah) dan perempuan diwilayah domestkc (di dalam rumah/ruang pribadi)
Pembedaan status laki-laki berperan sebagi subyek, sebagai aktor utama, dan perempuan sebagai obyek atau pemain figuran (pelengkap). Karenanya, laki-laki berperan sebagai pencari nafkah utama dan perempuan pencarai nafkah tambahan. Laki-laki sebagi pemimpin dan perempuan dipimpin.
Pembedaan sifat, perempuan dilekati dengan sifat dan atribut feminine. Misalnya, halus, sopan, kasih sayang, cengeng, penakut, emosional, “cantik”, memakai perhiasan dan cocoknya berkain panjang atau rok. Sementara laki-laki disifati sifat maskulin. Misalnya, kuat, berani, keras, rasional, kasar, gagah, tegas, berotot, aktif dan karenanya memakai pakaian yang praktis seperti calana panjang/pendek dan berambut pendek.

  1. Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender
a.      Marginalisasi (Peminggiran)
Peminggiran banyak terjadi dalam bidang ekonomi, anggapan perempuan berkerja hanyalah untuk dirinya sendiri sebagi nafkah tanbahan menyebabkan banyak perempuan hanya mendapatkan pekerjaan yang tidak terlalu strategis, baik dari segi gaji, jaminan kerja ataupun status dari pekerjaan yang didapatkan. Juga, karena perempuan dianggap tidak memiliki kemampuan analisis, maka perempuan hanya diserahi pekerjaan yang bersifat teknis dan rutin. Subordinasi (penomorduaan)
Ada anggapan bahwa perempuan itu irasional, emosional sehingga tidak dapat memimpin dan oleh karena itu harus ditempatkan pada posisi yang tidak penting. Sebagai contoh, dirumah tangga masih sering kita dengar jika keuangan mereka sangat terbatas, dan harus mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak-anak mereka, maka anak laki-laki akan mendapatkan kesempatan pertama disbanding anak perempuan.
Streotip (pelabelan atau pemberian cap negatif pada satu kelompok atau indvidu) perempuan sering mengalami pelabelan negatif, seperti manja, cengeng, penggoda, tukang gosip dan sebagainya yang berakibat pada ketidakadilan dalam melihat perempuan.

b.      Double Burden (Beban Ganda)
Perempuan dianggap bertanggungjawab terhadap tugas-tugas domestik seperti membersihkan rumah, memasak, melayani suami, dan merawat anak-anaa. Ketika perempuan juga berkerja diluar rumah, dan kadang sebagai pencari nafkah utama, beban domestik inipun masih dibebankan padanya. Tugas perempuan menjadi menumpuk, sangat banyak. Bahkan banyak yang mengatakan tugas perempuan dimulai dari terbitnya matahari sampai “terbenamnya” suami.

c.       Violence (kekerasan)
Banyak sekali kekerasan terhadap perempuan disebabkan oleh ketidakadilan gender. Kekerasan terhadap perempuan adalah segala tindakan kekerasan yang berbasis gender, yang mengakibatkan atau akan mengakibatkan rasa sakit atau penderitaan terhadap perempuan baik secara fisik maupun psikologis, baik yang terjadi diruang publik maupun di ruang domestik.


Contoh Data-data kekerasan Rifka Annisa sepanjang tahun 2001 (Januari-September)

Kasus
Jumlah Perkasus
Kekerasan terhadap Istri
165
Kekerasan dalam pacaran
32
Perkosaan
28
Pelecehan seksual
13
Kekerasan dalam rumah tangga
3
Jumlah keseluruhan
241

  1. Feminisme Modern[1]
Kita telah mengetahui bahwa ketegori maskulin dan feminin merupakan kontruksi sosial dan budaya. Idiologi yang berdasarkan gender menganggap kategori-kategori ini ditentukan secara biologis. Dalam perkembanganya, ukuran biologis lantas dipraktekan dalam posisi hirarkis. Feminin merupakan sebuah aliran yang mempersoalkan, mempertanyakan dan menggugat cara pandang dominan dan umum berlaku dalam era modern, yang pertama-tama diwarnai oleh cara pandang maskulin, patriakis, dan hirarkis. Pada tataran itu, feminisme adalah aliran filsafat post-modernisme. Ia bisa dibaca dengan sebuah filsafat atau teori politik, kritik idiologi, teori sosisologi, studi kebudayaan bahkan secara husus sebagai teori etika, feminisme pada dasarnya mempersoalkan  dan menggugat nilai, norma, prinsip, dan klaim normal yang abstrak dan besar yang dianggap berlaku universal.
Teori feminis mempunyai karakteristik “mendesak”. Maksudnya yakni mendesak bahwa suatu kondisi patriakhi universal melandasi subordinasi kaum wanita dalam masyarakat-masyarakat dunia. Sayangnya, pada perkembangan selanjutnya teori ini dievaluasi sebagai teori yang kurang bermanfaat, lantaran belum  adanya ketidakjelasan apa yng dimaksud dengan konsep patriakhi, dan akar sebenarnya yang disebut patriakhi belum terpahami secara konsisten. Suatu cirri kehidupan yang menarik dalam masyarakat kapitalis industri pada abad yang lalu ialah munculnya feminisme. Setidaknya ada dua gelombang kegiatan feminis. Pertama, mulai sekitar pertengahan bab XIX, telah muncul dan tenggelam sampai sekitar tahun 1920-an. Kaum wanita menjadi sangat aktf dalam gerakan anti perbudakan, dan mereka juga memimpin sejumlah gerakan pemberantasaan kejahatan, khususnya penggunaan alkohol dan pelacuran. Sekitar masa peralihan ke abad XX kaum wanita pada gelombang masyarakat industri didorong secara kuat untuk mendapatkan hak memilih.
Feminism pada dasarnya mati dalam masyarakat kapitalis industri sejak kurang lebih tahun 1920 hingga awal 1960-an. Sejak saat itu gelombang feminis kedua terjadi. Kaum wanita menuntut persamaan dengan kaum pria dalam lingkungan kehidupan social, dan telah melakukan banyak terobosan ke dalam angkatan kerja. Suatu kesadaran feminis baru muncul : kaum wanita melihat diri mereka sendiri sebagai patner kaum pria dan patut menerima imbalan dasar sosial yang sama secara tradisional diterima kaum pria. Sebagai tambahanya, banyak wanita mencari suatu otonomi dan suatu idialitas tersendiri. Mereka memandang bahwa diri mereka sebagai istri dan ibu, serta mendesak kaum pria agar mengikuti identitas terpisah ini.
Fenomena tersebut digambarkan oleh meningkatnya frekuensi bertambahnya jumlah penundaan perkawinan, mengurangi tingkat perkawinan dan mengandung. Pada perkembangan selanjutnya (dikategorikan masih termasuk dalam perkembangan gelombang kedua), mulai dirancang organisasi untu memperbaiki kepentingan kaum wanita. Sebut saja NOW (Nation of Organizaton Women-Amerika Serikat : 1966) sebuah organisasi besar yang melakukan lobi untuk memperoleh hak-hak wanita pada tingkat nasional dan menentang kndisi-kondisi yang mengahalangi kaum wanita untuk mencapai persamaan dengan kaum pria disegala kehidupan sosial.
Kedua gelombang feminis tersebut disosialisasikan erat dengan perubahan-perubahan panting dalam karakter kepitalisme barat kerana perubahan-perubahan tersebut mempengaruhi posisi kaum wanita dalam kerja. Gelombang pertama bersamaan dengan gerakan kaum wanita masuk pada berbagai pekerjan administrasi dan perkantoran dalam sektor ekonomi perusahaan yang lebih luas. Sementara gelombang yang paling ahir bersesuaian dengan masuknya kaum wanita yang mempunyai anak kecil dalam sektor angkatan kerja. Malvin Harris (1918) berpendapat. Tenaga kerja kaum wanita semakin dicari kaum kapitalis untuk mengisi sektor kerja pelayanan dan informasi. Meningkatnya partisipasi kaum perempuan ahirnya memajukan kesadaran feminis dalam diri mereka. Feminisme modern baik sebagai idiologi maupun gerakan sosial pada ahirnya tetap akan membawa kita pada perubahan ekonomi.

(Bersambung)


[1] . perlu diiingat bahwa teori feminis berbeda dengan teori sosislogi lainya. Hal ini disebabaka karena teori ini adlah pemikiran dari sebuah komunitas interdisipliner yang mencakup tidak hanya sosiolog. Selainitu juga dikarenakan sosiolog feminis berkerja dengan agenda-agenda : memerluas dan memperdalam ilmu asli mereka (sosisologi) dengan menggunakan pengetahuan sosiologi untuk menganalisis kembali temuan studi yang teah dibuat oleh para sarjana feinis dan mengembangkan pemahaman kritis mengenai masyarakat untuk mengubah kehidupan kearah yang dianggap lebih adil dan berperikemausiaan (dua agenda besar ini juga merupakan hallmark setiap teori kritis