Minggu, 27 November 2011

ANALSISI DIRI

ANALISIS DIRI
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)
Tujuan :
  1. Peserta mempunyai kesadaran individu sebagai hamba Allah SWT
  2. Peserta mempunyai kesadaran individu sebagai makhluk sosial
  3. Peserta mempunyai kesadaran individu akan realitas masyarakat
  4. Peserta mempunyai kesadaran untuk bergerak sesuai dengan Visi dan Misi PMII
Target :
  1. Terbentuknya kader yang mampu beradaptasi dengan dirinya
  2. Terbentuknya kader yang mampu beradaptasi dengan realitas sosial
  3. Terbentuknya loyalitas dan militansi kader
Kisi-kisi Materi :
  1. Filosofis Manusia dan Pengenalan Realitas dan Negara
  2. Idilogosasi Kader PMII yang Berakter dan Berkepribadian
Metode :
  1. Analogi Diri
  2. Sharing Ide
  3. Trush Game
  
Abtraksi
Analsis diri secara umum ingin mengungkapkan latar belakang idiologi, social budaya, keagamaan, dan keadaan psikologi peserta. Sedangkan secara khusus analisis diri ingin mengingkap motivasi pesrta untuk menjadi bagian dari PMII. Pada hakikatnya Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk ynag palin sempurna dibandingkan yang lain. Manusia memilki cipta. Rasa, karsa, serta karya untuk brfikir secara mandiri untuk merubah kontruksi pola piker, sikap dan tindakan
Manusia memiliki kebebasan penuh atas dirinya sendir untuk memilih apa yang dia kehendaki. Ketiak kemerdekaan manusia dibenturkan dengan problematika kehidupan yang meniscayakan adanya pola interaksi dengan manusia yang lain dalam satu komunitas, kadang-kadang manusia merasa terpasung dan merasa teralineasi (terasing) akan eksistensi dirinya (eksistensialisme : Jean Paul Sarire) . sehingga dalam perjalanana manusia lupa akan dirinya, dan ahirnya yang terjadi bukanlah layaknya sebagi manusia yang seutuhnya, namun yang terjadi adalah proses dehemunisasi (tidak memanusiakan manusia). Proses dehemunisasi tersebut terjadi karena  sempitnya ruang gerak, waktu dan pemahaman akan dirinya untkmengekspresikannilai-nilai cipta, rasa, dan karsa yang juga disebabkan adanya intervensi manusia atau makhluk yang lain yang menindas dan hegemonik.
Sigmund Freud membagi manusia menjadi tiga hal ; yaitu, Ide, Ego, dan Super Ego. Freud melihat bahwa esensi manusia cenderung egois, dalam hal ini super ego lebih unggul dar ide dan ego. Manusia harus mampu menyeimbangkan antara ide, ego, dan super ego, agar tidak terjadi proses individualism pad diri manusia, tetapi juga peka terhadap realitas diluar dirinya.
Karl Marx mempunyai pandangan berbeda dengan para sosiolog dan pskolog kontemporeryang menyatakan bahwa wtka manusia itu tidak ada : bahwa manusia dilahirkan seperti kertas kosong, dimana kbudayaan yang menuliskanteks atasnay. Marx melontarkan ide bahwa manusia Qua manusia adalah etintas yang dapat dikenali dan dapat diketahui. Bahwa manusia dapat didefinisikan sebagai manusia, bukan hanya secara biologis, anatomis, dan fisik, tetai juga secara psikologis. Marx membedakan dua jenis dorongan dan hasrat manusia. Pertama, dorongan yang konstan atau tetap, seperti lapar, nafsu seksual, yang merupakan bagaian integral dalam watak manusia yang dapat diubah hanya dalam bentuk arahnya dan sebagai kebudayaan. Kedua, dorongan yang relative, yang erupakan bukan bagian intergraldalam watak manusia “yang berasal dari struktur social dan kondisi produksi dan komunikasi tertentu”. Contoh, kebutuhan yang ditimbulkan dari masyarakat yang kapitalis, kebutuhan terhadap uang, mencari kebutuhan pribadi, dan anyak contoh yang lain yang menimbulkan kesenjangan sosial (konsep manusia menurut Karl Marx)
Humanisasi dalam bentuk apapun seperti yang dicita-citakan oleh tokoh pendidikan yang berasal dari brsazik bernama Paulo Freira harus tetap dipertaruhkan alam struktur yang pyramid. Maka disinalah peran nalisa diri sipertaruhkan untuk mengungkap nilai-nilai kemanusiaan dalam diri manusia yng selama ini terpasung dan terasng. Karena dengan anaia diri kita sebagi manusia akan menemukan eksistensi kita sebagai manusia yang merdeka dari segala bentuk penindasan dan segala sistem yang membelenggu.
Analisa diri menganggap mbahwa manusia bukanlah makhluk yang kosong yang di isi dan didojtrin untuk menjadi pengabdi bagi manusia yang lain.. akan tetapi mamnusia analisa menganggapa manusia sosok manusia yang mempunyai hati nurani yang harus diungkapkan dan harus dikembangkan sebagai upaya untuk mempertahankan eksistensinya yang mempunyai akal pikiran. Sebagai kader PMII harus mampu mengekspresikan dirinya dan jujur dengan keadaan serta seantiasa membuka diri terhadap fenomena-fenomena yang berada diluar dirinya.
Ahirahirnya atas nama kemanusiaan “barangsiapa yang ingin menginterfensi kretifitas manusia yang lain berarti ia ingin menjadi Tuhan, padahl tiada Tuhan selain Allah. Kita menghargai sesame, dari manapun asalanya, siapapun orangya, apapun suku dan rasnya selama bias mejadi saudar bagi sesamanya” (Syahadat Pembebasan) []

Rabu, 23 November 2011

Selamat Hari Guru Nasional


Hari ini (25 November) adalah hari yang bersejarah untuk pendidikan bangsa Indonesia, diawali dengan sejarah panjang mempersatukan para guru diseluruh Indonesia, dari Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932. Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia. Namun Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.
Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres pula, pada tanggal 25 November 1945 bertepatan dengan seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan. Dengan semangat pekik “merdeka” yang bertalu-talu, di tangan bau mesiu pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan :
1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia;
2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-   dasar kerakyatan;
3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

“Selamat hari Guru Nasional”

Jumat, 18 November 2011

Wahdatul Wujud (pemikiran Ibnu 'arabi)

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
            Di dunia tasawuf dikenal banyak memiliki konsep tentang Al-Wahdah, seperti Al-Wahdat Al-Ummah, Al-Wahdat Al-Wujud, Al-Wahdat Al-Adyan, dan sebagainya. Mengutip dari pendapatntnya Ahmad Amin, konsep ini berawal dari penjabaran formulasi konsep tauhid “La ilaha illah”, yang mempunyai implikasi sangat dalam bagi kehidupan umat tauhid. Sebab konsep ini merangkum secara universal bagaimana seharusnya manusia memandang diri, manusia dan alam dalam kaitanya dengan yang Mutlak (Tuhan). Semuanya dipandang sebagai wujud dari karya-Nya dan fenomena kebesaran-Nya. Bagi seoarng sufi, tidak ada apa-apa, dan tidak mencinta suatu apapun, kecuali Dia, bahkan tidak memandang dirinya dan manusia pada umumnya kecuali sebagai hamba-Nya. Dan Dia telah menurunkan petunjuk kepada umat manusia, berupa wahyu yang disampaikan melalui para Rasul dan Nabi-Nya. Sehingga pada umumnya, ajaran tasawuf  memandang bahwa keaneragaman agama di dunia hanya sekedar bentuknya, sedang hakikatnya sama, karena semuanya mempunyai sumber segala sesuatu. Tuhan pencipta alam semesta

PEMBAHASAN
            Tasawuf atau sufisme adalah satu cabang keilmuan dalam Islam atau secara keilmuan ia adalah hasil kebudayaan Islam yang lahir kemudian setelah Rasulullah wafat. Ketika beliau masih hidup belum ada istilah ini, yang ada hanya sebutan sahabat, bagi orang Islam yang hidup pada masa Nabi dan sesudah itu generasi Islam disebut Tabi’in. dan Tabi’in at-Tabi’in dan seterusnya. Menurut  Hakim Hasan dalam At-Thashawwuf fi Syi’ri Al-‘Arab istilah tasawuf baru terdengar pada pertengahan abad kedua hijriyah, dan menurut Nicholson dalam bukunya At-Tashawwuf Al-Islami wa Tarkhihi istilah tasawuf muncul pada pertengahan abad ketiga hijriyah.
            Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa arab, Tashawwafa, yatashawwafu, tashawwufun. ‘Ulama berbeda pendapat dari mana asal-usulnya. Ada yang mengatakan dari kata “Shuf” (bulu domba), “Shaf” (barisan), “Shafa” (jernih) dan dari kata “Shuffah” (emper masjid Nabawi yang ditempati oleh sebagian sahabat Nabi SAW). Pemikiran masing-masing pihak itu dilatarbelakangi obsesinya dan fenomena yang ada pada diri sufi, dan masih banyak asal-usul istilah dari kata yang merujuk pada kata tasawwuf.[1]
            Secara terminology-pun banyak dijumpai definisi yang berbeda-beda, yang oleh Ibrahim Basyuni diklasifikasikan menjadi tiga, yakni, Al-Bidayah, Al-Mujahadah dan Al-Madzaqat. Dari sekian definisi yang ada dapat dikatakan, bahwa tasawuf adalah moralitas Islam yang pembinaanya melalui proses tertentu (mujahadah dan riyadloh).
            Sufisme adalah bagian dari Syari’ah Islamiyah, yakni wujud dari Ihsan, salah satu kerangka dari ajaran Islam. Dua sebelumnya adalah Iman dan Islam. Oleh karena itu perilaku sufi harus tetap berada dalam kerangka Islam. Al-Qusyairy mengatakan “seandainya kamu melihat seseorang yang diberi kemampuan khusus (karomah), sehingga ia bisa terbang di angkasa, maka jangan terburu tergiur padanya, sehingga kamu melihat sebagaimana dia menjalankan perintah-Nya, meninggalkan larangan dan menjaga hukum yang ada”[2]
            Ibnu Arabi sangat sering dikenali sebagai penerus pertama doktrin wahdat al-wujud “Kesatuan Tuhan” atau “Kesatuan Eksistensi”. Sesungguhnya karya yang khusus menampilkan sudut pandangnya kebanyakan bukan isi dari tuilisan-tulisanya, namun karena perhatian para pengikutnya dan arah pemikiran Islam yang berkembang setelah dirinya.
            Istilah wujud secara tipikal diterjemahkan dalm bahasa inggris denga Being atau Existence, dan ini lazim seperti keadilan yang sering digunakan dalam Filsafat Islam maupun Kalam (Teologi Dogmatis). Namun, pengertian dasar dari istilah tersebut adalah “menemukan” (finding) atau “ditemukan” (to be Found), kata wujud merupakan bentuk masdar dari kata wajada (menemukan) atau wujida (ditemukan) yang berasal dari kata WAJADA.
            Pendeknya, tradisi Islam mutahir benar ketika menisbatkan asal-muasal doktrin Wahdah al-wujud kepada Ibnu Arabi, karena ia menegaskan bahwa wujud dalam penegrtian yang sebenarnya adalah realitas tunggal dan tidak bisa menjadi dua wujud. Disini ia mengikuti jejak-jejak  sejumlah pemikir yang lebih awal, seperti Al-Ghozali, yang mengomentari tentang ke-Esa-an Tuhan (Tauhid)- seperti “Tidak ada Tuhan selain Tuhan” bererti “Tidak ada Wujud selain Tuhan”. Namun, Ibnu Arabi menekankan sebagian besar dari tulisan-tulisanya untuk menjelaskan realitas jamak (katsrah) di dalam kesatuan Tuhan. Hal ini akan menjadi kesalahan besar jika menyangka bahwa ia secara sederhana menegaskan kesatuan wujud, sementara disisi lain menisbatkan kejamakan kosmos pada ilusi atau pada kedunguan manusia. Menurut pandangan Ibnu Arabi, keragaman nyaris Nampak tunggal, tatkala ia juga berakar pada Tuhan, Al-Haqq. Namun, dengan menegaskan keanekaragaman, ia tidak bermaksud menyatakan bahwa keaneragaman yang “ada” sama pengertianya dengan mengatakan Tuhan “ada”, karena disinilah hanya ada satu wujud, satu-satunya eksistensi yang sejati, yaitu Tuhan dengan wujud-Nya.
            Al-Qur’an mengatakan kepada kita bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih, Adil, Pengampun, Baik Hati, Sabar, Pemaaf dan lain-lain, yang semua sifat itu tepat sekali yang dijadikan sebagai sifat standar manusia yang harus dijelmakan dalam rangka meraih kesempurnaan moral dan spiritual. Oleh karena itu, Ibnu Arabi mengandaikan diri menunjuk jalan sufi sebagai “Mengandaikan diri dengan sifat Tuhan” (at-takhalluq bi akhlak Allah) dan ia menandai sifat karakter-karakter tersebut dengan nama Tuhan. Maka, ia mendasari perilaku etik dan sosial dengan prinsip-prinsip yang sama untuk membangun alam dunia.[3]
            Sekalipun ia menggunakan kata wujud dalam pengertian yang beragam, dia memahami istilah tersebut dengan satu pengertian fundamental, kemudian menyajikan  fakta bahwa wujud adalah satu. Perbedaan pengertian pada saat istilah tersebut digunakan harus dipahami dengan mengandaikan perbedaan realitas tunggal dari penampakan wujud itu sendiri. Pada tingkatan tertinggi, wujud adalah realitas Tuhan yang absolute dan tak terbatas, yakni “Wujud Niscaya” (Wajib al-Wujud). Dalam penertian ini, wujud menandakan Esensi Tuhan atau Hakikat (Dzat al-Haqq), satu-satunya realitas yang nyata disetiap sisi. Sedangkan pada tingkatan terbawah, wujud berupa substansi yang meliputi “Segala sesuatu selain Tuhan” (Ma Siwalah) dengan cara inilah Ibnu Arabi dan tokoh-tokoh pemikir lain mendefinisikan “kosmos” atau “jagad raya” (al-‘alam). Oleh karena itu, pada pengertian kedua, istilah wujud tersebut digunakan sebagai stenografi untuk merujuk pada keseluruhan kosmos, kepada segala sesuatu yang eksis. Wujud juga bisa digunakan untuk merujuk pada eksistensi setiap dan segala sesuatau yyang ditemukan dalam jagad raya ini.[4]

DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. H.M Amin Syukur, MA. Tasawuf Sosial. Pustaka belajar. Yogyakarta. 2004
Prof. Dr. H.M Amin Syukur, MA. Dr Abdul Muhaya, MA Dkk. Tasawuf dan Krisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2001
Acmad Syahid. Dunia Imajinal Ibnu ‘Arabi. MA,g. Risalah Gusti. Surabaya. 2001, cet !


[1] . Prof. Dr. H.M Amin Syukur, MA. Tasawuf Sosial. Pustaka belajar. Yogyakarta. 2004 hal 3
                                                                                                          
[2] . Ibid hal 4
[3] . Acmad Syahid. Dunia Imajinal Ibnu ‘Arabi. MA,g. Risalah Gusti. Surabaya. 2001, cet ! hal. 40

[4] . Ibid hal 28

Teknologi Informasi

PENDAHULUAN 
  1. Latar Belakang Masalah
Masa depan bangsa terletak dalam tangan generasi muda. Mutu bangsa di kemudian hari bergantung pada pendidikan yang dikecap oleh anak-anak sekarang, terutama melalui pendidikan formal yang diterima di sekolah. Apa yang akan dicapai di sekolah, di tentukan oleh kurikulum yang ada di sekolah itu. Jadi,, barang siapa yang menguasai kurikulum memgang nasib bangsa dan Negara. Maka dapat dipahami bahwa kurikulum sebagai alat yang begitu vital bagi perkembangan bangsa dipegang oleh pemerintah suatu Negara.
Beberapa penjabaran diatas juga mampu memberi pemahaman, betapa pentingnya usaha pengembangan kurikulum. Sedangkan untuk mengembangkan kurikulum, kita harus pula memahami seluk beluk kurikulum. Pada makalah ini, nanti kita akan menjabarkan beberapa nhal yang berkaitan tentang kurikulum.

  1. Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang atas, maka dirumuskan beberapa pokok masalah sebagai berikut :
    1. Pengertian Kurikulum
    2. Cakupan Kurikulum
    3. Asas-asas Kurikulum
    4. Ciri-ciri Kurikulum dalam Pendidikan Islam
    5. Prinsip KurikulumPendidikan Islam

BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian Kurikulum
Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa latin, curriculum yang berarti bahasa pengajaran. Ada pula yang mengatakan kata tersebut berasal dari bahasa prancis courier yang berarti berlari.[1]
Sedangkan pengertian kurikulum menurut beberapa ahli adalah sebagaia berikut :
1.      Crow and Crow
Kurikulum adalah rancangan pengajaranyang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis, sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.[2]
2.      J. Galen Saylor dan William M. Alexander
Dalam buku curriculum planning for better Teacing and Learning (1956) menjelaskan bahwa kurikulum adalah segala usaha sekolah untuk mempengeruhi anak belajar, apakah dalam ruang kelas, di halaman sekolah, atau di luar sekolah termasuk kurikulum. Kurikulum meliputi juga apa yang disebut kegiatan ekstra-kurikulet.[3]
3.      Alice Miel
Dalam bukunya Changing the Curriculum mengemukakan bahwa kurikulum meliputi segala pengalam dan pengaruh yang bercorak pendidikan yang diperolah anak di sekolah. Bukan hanya masalah pengetahuan, kecakapan, kebiasaan-kebiasaan, sikap, apresiasi, cita-cita serta norma-norma, melainkan juga pribadi guru, kepala sekolah, serta seluruh pegawai sekolah.[4]

4.      Menurut Mayoritas Para Ahli.
Kurikulum adalah, sejumlah mata pelajaran yang disiapkan berdasarkan rancangan yang sistematik dan koordinatif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan,[5]
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurikulum pada hakikatnya adalah rancangan mata pelajaran pada suatu kegiatan jenjang pendidikan tertentu, dan dengan menguasainya seseorang dapat dinyatakan lulus dan berhak memperoleh ijazah.[6]

  1. Cakupan Kurikulum
Dari pengertian yang telah dijabarkan diatas, maka cakupan bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum pada masa sekarang lebih luas. Bukan hanya oitu, perkembangan kehidupan dan tekhnologi pada zaman sekarang ini, menunutut kurikulum yang lebih actual. Berdasarkan kepada tuntutan perkembangan yang demikian itu, maka para pernacnag kurikulum dewasa ini menetapkancakupan kurikulum meliputi empat bagian:
                                 1.         Bagian yang berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapi oleh proses belajar mengajara.
                                 2.         Bagian yang berisi pengetahuan, informasi-informasi, data, aktifitas-aktifita, dan pengalaman-pengalamn yang merupakan bahan bagi penyusunan kurikulum yang isinya berupa mata pelajaran yang kemudian dimasukkan dalam silabus.
                                 3.         bagian yang berisi metode atau cara menyampaiakan mata pelajaran tersebut.
                                 4.         bagaian yang berisi metode atau cara melakukan penilaian dan pengukuran atas hasil mata pelajaran tertentu[7]
dan bukan hanya hal itu semestinya, mengingat perkembangan dunia yang semakin pesat. Cakupan kurikulum semestinya juga melakuakan kontroling atas proses dan hasil dari kurikulum tersebut.

  1. Asas-Asas Kurikulum
Secara teoritis filosofis penyusunan sebuah kurikulum harus berdasarkan asas-asas orientasi tertentu. Asas-asas tersebut sebagaimana dikemukakan S. Nasution dalam buku Asas-Asas Kurikulum sebagai berikut            :
                                 1.         Asas Filosofis
Filsafat sangat penting karena harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan tentang setiap aspek kurikulum. Sedangkan filsafat itu sendiri mempunyai arti cara berpikir yang sedalam-dalamnya, yakni sampai akarnya tentang hakikat sesuatu. Para pengembang kurikulum harus mempunyai filsafat yang jelas tentang apa yang mereka junjung tinggi. Filsafat yang kabur akan menimbulkan kurikulum yang tidak menentu arahnya. Dibawah ini akan dijabarkan sedikit tentang aliran-aliran filsafat sebagai berikut :
a.       Aliran Perennialisme
Kurikulum yang diinginkan oleh aliran initerdiri atas subject atau mata pelajaran yang terpisah sebagai disiplin ilmu dengan menolak penggabungan antara IPA dan IPS. Kurikulum ininmemberi persiapan yang sungguh-sungguh bagi studi dipergurun tinggi.
b.      Aliran Idealisme
Filsafat ini umumnya diterapkan di sekolah yang berorientasi religius.
c.       Aliran Realisme
Aliran filsafat ini adalah mencari kebanaran  di dunia ini sendiri.Sekolah yang beraliran realisme mengutamakan pengetahuan yang sudah mantap sebagai hasil penelitin ilmiah yang dituangkan secara otomatis sebagai disiplin ilmu atau mata pelajaran. Disekolah akan dimulai dengan teori-teori dan prisip-prisip yang fundamental, kemudian praktik dan aplikasinya. Karena mengutamkan pengetahuan yang esensial, maka pelajaran seperti ketrampilan dan kesenian dianggap tidak perlu.
d.      Aliran Pragmatisme
Aliran ini berpendapat bahwa kebenaran adalah buatan manusia berdasarkan pengalamannya, tidak ada kebenaran mutlak, kebenaran adalah tentative dan dapat berubah. Sekolah yang menerapkan kurikulum ini, senantiasa menjauhkan anak didik dari indoktrinasi dan mengajak siswa secara kritis menganalisis isu-isu social.
e.       Aliran Eksistensialisme
Aliran ini mengutamakn individu sebagai factor dalam menentukan apa yang baik dan apa yang benar. Sekolah yang menganut aliran eksistensialisme mendidik anak dengan agar ia menentukan pilihan dan keputusan sendiri dengan menolak otoritas orang lain. Anak harus bebas berpikir  dan mengambil keputusan sendiri secara bertanggung jawab. Sekolah yang menganut aliran ini juga menolak turut campur pihak luar atas setiap kebijakan yang dikeluarkan.[8]
                                 2.         Asas Sosiologis
Asas Sosiologis berperan memberikan dasar untuk memberikan dasar apa saja yang akan dipelajari sesuai dengan dengan kebutuhan , masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. 
                                 3.         Asas Organisatoris
Asas organisatoris berperan memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana pelajaran itu disusun, dan bagaimana penentuan luas dan urutan mata pelajaran
                                 4.         Asas Psikologis
Berperan memberikan berbagai prinsip-prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dicerna dan dikuasai oleh anak didik sesuai dengan tahap perkembangannya.[9]
Selanjutnya dilihat dari segi peran dan orientasinya, kurikulum dapat dibagi menjadi empat, yaitu :
1.      Humanistik
Berpendapat bahwa kurikulum seharusnya memberi pengalaman kepada setipa pribadi secara memuaskan.
2.      Rekonsruksi Sosial
Melihat kurikulum sebagai alat untuk mempengaruhi perubahan social dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat.
3.      Teknologis
Kurikulum sebagai proses tekhnologi untuk mewujudkan tujuan yang dikehendaki oleh pembuat kebijaksanaan.
4.      Akademis
Kurikulum sebagai upaya peningkatan intelektualitas dengan cara memperkenalkan para siswa terhadap berbagai macam pelajaran yang terorganisir dengan baik.[10]
Secara teoritis kurikulum lebih merupakan kendaraan dari pada materi. Dengan kata lain, jenjang dan struktur suatu kurikulum adalah milik sebuah disiplin ilmu, termasuk disipn ilmu yang ajarkan dalam pendidikan islam. Akan tetapi dalam pendidikan agama islam, mempunyai kurikulum yang berbeda dengan kurikulum pada umumnya.
            Pendidikan islam sepanjang masa kegemilangannya memandang kurikulum pendidikan sebagai alat untuk mendidik generasi muda dengan baik.dan melaksanakan fungsinya sebagai kholifah b
Di muka bumi. Selain itu, islam menggunakan kata manhaj untuk kata kurikulum yang diartikan jalan yang terang.
  1. Ciri-Ciri Kurikulum Dalam Pendidikan Islam
Dalam buku FIlsafat Pedidikan Islam karya Prof. Dr. Abuddin Nafa, MA yang dikutip juga dari Omar Muhammad at-Toumy As-Syaibani menyebutkan lima cirri kurikulum pendidikan islam. Kelima cirri tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan, kandungan, metode, alat dan tekniknnya bercorak agama.
2.      meluas cakupannya dan menyeluruh kandungannya, di samping itu juga harus luas perhatiannya,
3.      bersikap seimbang diantara berbagai ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan. Disamping itu juga harus seimbang antara pengetahuan yang berguna bagi pengembangan individual dan pengembamngan social.
4.      bersikap menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajran yang diperlukan oleh anak didik,
5.      kurikulum yang disusun selalu disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik.[11]

  1. Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
Al-Syaibani menyebutkan bahwa dalam kurikulum pendidikan islam yang dikutip juga dalam buku Filsafat Pendidikan Islamkarya Prof. Dr. Abuddin Nafa, MA adalah sebagai berikut           :
                                 1.         prinsip pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran dan nilai-nilainya.
                                 2.         prinsip menyeluruh (universal pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum, yakni menyangkup tujuan membina akidah, akal dan jasmaninya .dismping itu juga tujuan pembinaan bagi kemanfaatan masyarakat dan spiritulnya,
                                 3.         prinsip keseimbangan yang relative antara tujuan-tujuan dan kandungan kurikulum.
                                 4.         prinsip keterkaitan antara bakat, minat, kemampuan-kemampuan dan kebutuhan pelajar.
                                 5.         prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual diantara pelajar, baik baik dari segi minat maupun bakat.
                                 6.          prinsip menerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat.
                                 7.         prinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktifitas yang terkandung dalam kurikulum.[12]
Semua yang telah dijabarkan diatas mengenai seluk beluk kurikulum harus dijalankan secara berkesinambungan yang didalam kurikulum itu juga harus terdapat aspek, dasar agama, dasar filsafat, dasar psikologis, dan dasar social.
BAB III
KESIMPULAN

Dari penjabaran tentang kurikulum di atas mengenai bebapa aspek, maka dapat didimpulkan beberapa hal yang vital, yaitu sebagaiberikut          :
                                 1.         kuikulum adalah suatu rancangan pelajaran yang telah disusun secara sistematis.
                                 2.         filsafat dalam kurikulum berfungsi untuk mangarahkan atau memperjelas tujuan dari pembuatan kurikulum tersebut.
                                 3.         dari semua aspek yang telah dijabarkan berkaitan dengan kurikulum, satu dengan yang lainnya selalu saling berkesinambungan agar apa yang menjadi pokok tujuan dari kurikulum dapat tercapai.
 DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.

Nasution, S, Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, Cet II, 1995

Nasution. S, Pengembangan Kurikulum Pendidikan, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991,

Langgulung. Hasan, asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarata: Pustaka Al-Husna, cet I, 1987,


[1] Abuddin Nata, FIlsafat Pedidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, hal,183 dan dikutip dari S. Nasution, Pengembangan Kurikulum Pendidikan, Bandung Citra Aksara, 1991, hal.9.
[2] Crow and crow, Pengantar Ilmu Pendidikan, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1990, edisi III. Hal 75.
[3] S. Nasution, asas-asas kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 1995, hal.4.
[4] Ibid. hal.6.
[5] Abdurrahman Salih Abdullah, Education Theory a Quranic Outlook,Makkah Al-Mukkaromah: Umm Al-Qurro’ Univercity, hal. 123. di kutip dari Abuddin Nata, FIlsafat Pedidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, hal,183
[6] Abuddin Nata, FIlsafat Pedidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, hal,175.
[7] Hasan Langgulugn, asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarata: Pustaka Al-Husna, cet I, 1987, hal.483-484.
[8] S. Nasution, Asas-Asas kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 1995, hal 23-25.
[9] S. Nasution, Pengembangan Kurikulum Pendidikan, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991, hal. 11-14.
[10] Abuddin Nata, FIlsafat Pedidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, hal,178. dikutip jiga dari John D. McNeil, Kurikulum Sebuah PengantarKomperhenship (terj. Subandiah), Jakarta: Wirasari, 1988, hal.5.
[11] Abuddin Nata, FIlsafat Pedidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, hal,178. dikutip juga dari Husain Quroh, Al-Ushul al-Tarbawiyyah, Jakarta: Bulan Bintang, cet. 1. 1997. hal. 476.
[12] Ibid.hal. 181.

MOTIVASI PEMUDA INDONESIA

MOTIVASI PEMUDA UNTUK MEMBANGUN DIRI DAN BANGSA
1.    
PERAN PEMUDA MAHASISWA DALAM MEMBANGUN BANGSA
“Berikan kepadaku seribu orang tua, akan aku cabut sumeru dari uratnya. Berikan kepadaku seorang pemuda, niscaya akan ku goncangkan dunia” Ir. Soekarno dlam pidato 28 Oktober 1958.
Perkataan sukarno ini menandaskan betapa pentingnya peran generasi muda dalam kehidupan bangsa, generasi muda adalah elemen terpenting dalam menciptakan perubahan masyarakat, apalagi generasi muda yang mengenyam penddidkan tinggi universitas. Sejarah telah membuktikan, kaum muda terpelajarlah yang membentuk “Bangsa Indonesia” ini. Istilah Indonesia yang pertama dikenalkan oleh sarjana ternama Adolf Bastian sebagai istilah Ethonografi, telah dijadikan jiwa yang mempersatukan rakyat senasib sepenaggungan dari sabang sampai marauke.
Bermula dari kelompok muda terpelajar Indonesia di Belanda yang terhimpun dalam Indische Vereeniging berganti nama “Perhimpunan Indonesia” di tahun 1918, sepuluh tahun kemudian dalam pembukaan Konggres Pemuda kedua tahun 1928  Muhammad Yamin berpidato : “Roh Indonesia” memiliki masa lalu yang tak terkira jauhnya, Majapahit dan Sriwijaya digambarkan sebagai kerajaan-kerajaan Indonesia. Sejak zaman pra sejarah “Anak Indonesia” sudah mendiami wilayah Madagaskar sampai lautan Teduh, berarti seluruh wilayah bahasa “Austronesia”, kini dirangkum oleh pemuda untuk membangun kembali menjadi “Bangsa Indonesia”
Pidato yang menggelegar penuh kejiwaan dan retorika itu, dianggap Bombastis dan banyak kekeliruan oleh ilmua-ilmuan dan orang tua, tapi dengan lantang dijawab olehnya “ Bagi kita Pemuda Indonesia, Persatuan Indonesia bukan masalah keyakinan, bukan masalah benar dan tidak benar. Persatuan Indonesia adalah masalah yang berakar di dalam diri kita masing-masing. Suatu masalah yang membangunkan kesadaran kita yang paling dalam, mau atau tidak, kita semua tergolong Bangsa Indonesia, mau atau tidak di dalam tubuh kita mengalir darah Indonesia”. Dan di ahir konggres, M Yamin menyodorkan Konsep Resolusi kepada Soenarjo yang sedang berpidato, kemudian Resolusi itu menjadi jiwa kolektif para pemuda : “Kami poetra poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah yang satoe. Tanah Indonesia” “Kami poetra poetri Indonesia, mengakoe berbangsa satoe, Bangsa Indonesia” “Kami poetra poetri Indonesia, menjoenjoeng bahasa perasatuan, Bahasa Indonesia”. Dan ahirnya Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan “ Kemerdekaan Indonesia” pada tanggal 17 Agustus 1945.
2.     MEMBANGUN DIRI DAN BANGSA
“Bangunlah Jiwanya. Bangunlah Badanya. Untuk Indonesia Raya”
Membangun jiwa kemudian badan adalah hal yang paling penting dalam kehidupan manusia. Jiwa yang bangun dan sadar akan “Siapa” dan “untuk apa” dirinya hidup merupakan kunci untuk mencapai tujuan pembangunan ini.

Ciri Jiwa yang bangun dan sadar adalah sebagai berikut:
a.     Memadukan Keimanan dan Amal Kebajikan
Nabi SAW bersabda : “Sungguh mengagumkan orang yang beriman. Semua yang dialaminya adalah baik baginya. Jika ia mendapat hal yang menyenangkan dan ia bersyukur. Maka hal itu akan membuahkan kebaikan. Jika ia tetimpa oleh hal yang menyakitkan dan Ia bersabar. Maka hal itu menjadi kebaikan baginya. Sifat itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali umatku yang beriman” (H.R. Muslim)
Keimanan dan kebaikan akan mendatangkan Ma’unah (Pertolongan), Ma’iyyah (Kebersamaan), dan Maddad (Bantuan) dari Allah SWT.
b.     Menyibukan Diri dengan Pekerjaan atau Menimba Ilmu yang Bermanfaat.
Kesibukan dengan pekerjaan dan menimba ilmu, akan mengarahkan pikiran negative dan umur menjadi lebih positif
c.      Fokuskan Diri Menghadapi hari ini.
Mengikat diri dengan masa lalu akan menimbulkan Al-Hazn (kegundahan dan penyesalan) menghawatirkan masa depan akan dapat menimbulkan Al-Hamm (kepengecutan)
d.     Mensyukuri Nikmat.
Yaitu menghitung nilai lebih dan potensi positif yang kita miliki, sehingga lahir optimisme menghadapi berbagai tantangan
e.     Memandang Ringan semua Cobaan.
Ibarat mengarungi samudra hidup, gelombang pasang dan surut adalah hal yang biasa. Setelah ribut badai, tentu laut kembali tenang, setelah gelap malam, fajar segera menyingsing
f.       Tidak boleh terguncang oleh bayangan buruk, selalu berprasangka baik terhadap Nasib dan Takdir Tuhan
g.     Adil dan Bijaksana Dalam Pergaulan
h.     Yakin bahwa Cobaan itu kecil disbanding besarnya karunia
i.        Tidak terpancing oleh tutur kata buruk orang lain
j.       Pandai Memilih dan Memilah Pekerjaan
k.     Upayakan pekerjaan selalu selesai tepat waktu
l.        Selalu Berusaha Berbuat yang Terbaik yang dilakukan
Keputakaan :                                                        
1.       Departemen Agama            : Al-Qur’an dan terjemahnya
2.       Hans Van Miert                     : Semangat Berkobar
3.       Ikim                                         : Konggres Menjelang Abad 21
4.       Jalaludin Rahmad                 : Khutbah-khutbah di Amerika
5.       Muslim                                   : Shohih Muslim


082136171224